Program 3 Juta Rumah

Program 3 Juta Rumah

Bagaimana Pertumbuhan Berbasis Infrastruktur Membentuk Ulang Sektor Properti Indonesia

Indonesia meluncurkan program “3 Juta Rumah”, dan ini bukan sekadar inisiatif pemerintah biasa. Program ini benar-benar mengubah pilihan masyarakat tentang tempat tinggal dan bekerja di seluruh negeri.

Inilah yang terjadi: pemerintah berkomitmen membangun 2 juta rumah di perdesaan dan 1 juta rumah di perkotaan. Pendanaannya mencapai USD 327,6 juta dan dimulai pada 2025. Namun yang lebih penting, lihatlah apa yang sudah terjadi di lapangan berkat momentum inisiatif ini.

Wilayah dengan pembangunan infrastruktur strategis menjadi yang terdepan. Ambil contoh Yogyakarta. Pertumbuhan persediaan properti mencapai 281% — tertinggi di Pulau Jawa. Mengapa? Jalan Tol Solo-Yogyakarta-YIA Kulonprogo telah rampung. Ketika kota-kota terhubung dengan jalan yang baik, nilai properti pun ikut naik. Masyarakat tidak lagi hanya berpikir untuk tinggal di satu kota; mereka mulai memandang kawasan yang lebih luas sebagai pasar properti mereka.

Cerita yang sama terjadi di berbagai daerah. Sumatra Utara mencatat pertumbuhan persediaan properti sebesar 122% berkat ruas-ruas baru Jalan Tol Trans-Sumatra. Kalimantan Timur, yang menopang ibu kota baru Nusantara, mencatat pertumbuhan 118%. Ini bukan angka kebetulan. Ini bukti bahwa infrastruktur mendorong permintaan properti.

Yang menarik adalah bagaimana setiap segmen harga merespons. Segmen rumah sederhana memimpin pertumbuhan tahunan dengan kenaikan volume pencarian sebesar 149%. Masyarakat sedang mencari, membandingkan, dan serius untuk membeli di kawasan dengan infrastruktur dan konektivitas yang lebih baik. Khusus di Jabodetabek, Depok mencatat pertumbuhan transaksi rumah segmen menengah ke bawah sebesar 340% dibandingkan tahun 2023.

Peran pembiayaan juga sangat penting. Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,75%, sehingga KPR menjadi lebih terjangkau bagi pembeli rumah pertama. Ditambah insentif PPN untuk rumah dengan harga hingga Rp5 miliar, daya beli masyarakat pun meningkat secara nyata. Pada kuartal IV 2024, transaksi KPR dan KPA tumbuh 58% dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada titik itulah masyarakat benar-benar mulai menandatangani transaksi.

Bagi pengembang, inilah saatnya memahami permintaan pasar dengan lebih baik. Pasar tradisional seperti Jakarta tetap penting — kota ini masih menyumbang 31,8% pendapatan properti nasional pada 2024. Namun kisah pertumbuhan justru ada di kota-kota lapis kedua dengan infrastruktur yang terus membaik. Pasar sewa Surabaya tumbuh 28% pada kuartal III 2024. Jawa Timur merupakan wilayah dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia, dengan proyeksi CAGR sebesar 6,61% hingga 2030.

Fokus pemerintah pada perumahan terjangkau bukanlah sekadar program sosial. Ini adalah strategi ekonomi. Lapangan kerja di sektor konstruksi tumbuh ketika pembangunan berjalan. Komunitas berkembang ketika masyarakat memiliki hunian yang lebih layak. Tingkat kemiskinan membaik seiring meningkatnya kepemilikan rumah yang stabil. Ini kebijakan praktis yang bermanfaat bagi masyarakat sekaligus menciptakan peluang pasar yang nyata.

Pengembang yang jeli sudah mulai bersiap menghadapi pergeseran ini. Mereka membidik koridor di sekitar jalan tol baru, kawasan dekat simpul transportasi, serta wilayah penopang proyek infrastruktur seperti Nusantara. Ini bukan taruhan spekulatif. Ini adalah lokasi-lokasi yang permintaannya sudah terlihat dalam data.

Hal yang menarik bagi investor? Program ini baru saja dimulai. Momentum dari riset dan data pencarian tahun 2024 menunjukkan masyarakat semakin optimistis terhadap investasi properti di luar pasar tradisional. Didukung peningkatan infrastruktur dan opsi pembiayaan yang lebih baik, kita sedang melihat peluang jangka panjang selama beberapa tahun ke depan bagi properti di koridor-koridor pertumbuhan strategis.